Indonesia | English
Contact Person

Penerapan Clinical Pathway di RSUD Prambanan

02 Juli 2013 - Artikel

Clinical pathway adalah pedoman kolaboratif untuk merawat pasien yang berfokus pada diagnosis, masalah klinnis dan tahapan pelayanan atau dapat diartikan sebagai suatu alur yang menunjukkan secara detail tahap-tahap penting dari pelayanan kesehatan termasuk hasil yang diharapkan. Secara sederhana dapat dibilang bahwa clinical pathway adalah sebuah alur yang menggambarkan proses mulai saat penerimaan pasien hingga pemulangan pasien dimana dalam pelaksanaannya menggabungkan standar asuhan setiap tenaga kesehatan secara sistematik. Tindakan yang diberikan diseragamkan dalam suatu standar asuhan, namun tetap memperhatikan aspek individu dari pasien.
Beberapa alasan perlunya diterapkan clinical pathway adalah adanya permasalahan-permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan saat ini yang meliputi antara lain: tuntutan pelayanan yang bermutu, tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bebas dari kesalahan medik, malpraktik, dan terhindar dari bahaya, tuntutan patient safety, masih tingginya angka infeksi, timbulnya penyakit degeneratif dan penyakit-penyakit baru, serta biaya yang tinggi dalam pelayanan kesehatan.
Tujuan dari penerapan Clinical pathway adalah menyediakan standar pelayanan minimal dan memastikan bahwa pelayanan tersebut tidak terlupakan dan dilaksanakan tepat waktu atau dengan kata lain menjamin tidak ada aspek-aspek penting dari pelayanan yang dilupakan, memastikan semua intervensi dilakukan secara tepat waktu dengan mendorong staf klinik untuk bersikap rpo-aktif dalam perencanaan pelayanan. Tujuan utama penerapan clinical pathway dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Memilih pola praktek terbaik dari berbagai macam variasi pola praktek,
2. Menetapkan standar yang diharapkan mengenai lama perawatan dan penggunaan prosedur klinik yang seharusnya,
3. Menilai hubungan antara berbagai tahap dan kondisi yang berbeda dalam suatu proses dan menyusun strategi untuk mengkoordinasi agar dapat menghasilkan pelayanan yang lebih cepat dengan dengan tahap yang lebih sedikit,
4. Memberikan informasi kepada seluruh staf yang terlibat mengenai tujuan umum yang harus tercapai dari sebuah pelayanan dan apa peran mereka dalam proses tersebut,
5. Menyediakan kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisa data proses pelayanan sehingga penyedia layanan dapat mengetahui seberapa sering dan mengapa seorang pasien tidak mendapatkan pelayanan sesuai dengan standar,
6. Mengurangi beban dokumen klinik,
7. Meningkatkan kepuasan pasien melalui peningkatan edukasi kepada pasien (misalnya dengan menyediakan informasi yang lebih tepat tentang rencana pelayanan)
Berbagai proses dapat dilakukan untuk menyusun clinical pathway, salah satunya terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:
1. Pembentukan tim penyusun clinical pathway. Tim penyusun clinical pathway terdiri dari staf multidisiplin dari semua tingkat dan jenis pelayanan. Bila diperlukan, tim dapat mencari dukungan dari kunsultan atau institusi diluar rumah sakit seperti organisasi profesi sebagai narasumber. Tim bertugas untuk menentukan dan melaksanakan langkah-langkah penyusunan clinical pathway.
2. Identifikasi key players. Identifikasi key players bertujuan untuk mengetahui siapa saja yang terlibat dalam penanganan kasus atau kelompok pasien yang telah ditetapkan untuk merencanakan focus group dengan key players bersama dengan pelanggan internal dan eksternal.
3. Pelaksanaan site visit di rumah sakit. Pelaksanaan site visit di rumah sakit bertujuan untuk mengenai praktik yang sekarang berlangsung, menilai sistem pelayanan yang ada dan memperkuat alasan mengapa clinical pathway perlu disusun. Jika diperlukan, site visit internal perlu dilanjutkan dengan site visit eksternal setelah sebelumnya melakukan identifikasi partner benchmarking. Hal ini juga diperlukan untuk mengembangkan ide.
4. Studi literatur. Studi literatur diperlukan untuk menggali pertanyaan klinis yang perlu dijawab dalam pengambilan keputusan klinis dan untuk menilai tingkat dan kekuatan bukti ilmiah. Studi ini sebaiknya menghasilkan laporan dan rekomendasi tertulis.
5. Diskusi kelompok terarah. Diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) dilakukan untuk mengenal kebutuhan pelanggan (internal dan eksternal) dan menyesuaikan dengan kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan tersebut serta untuk mengenal kesenjangan antara harapan pelanggan dan pelayanan yang diterima. Lebih lanjut diskusi kelompok terarah juga perlu dilakukan untuk memberi masukan dalam pengembangan indikator mutu pelayanan klinis dan kepuasan pelanggan serta pengukuran dan pengecekan.
6. Penyusunan pedoman klinik. Penyusunan pedoman klinik dilakukan dengan mempertimbangkan hasil site visit, hasil studi literatur (berbasis bukti ilmiah) dan hasil diskusi kelompok terarah. Pedoman klinik in perlu disusun dalam bentuk alur pelayanan untuk diketahui juga oleh pasien.
7. Analisis bauran kasus. Analisis bauran kasus dilakukan untuk menyediakan informasi penting baik pada saat sebelum dan setelah penerapan clinical pathway, meliputi: length of stay, biaya per kasus, obat-obatan yang digunakan, tes diagnosis yang dilakukan, intervensi yang dilakukan, praktisi klinis yang terlibat dan komplikasi.
8. Menetapkan sistem pengukuran proses dan outcome. Contoh ukuran-ukuran proses antara lain pengukuran fungsi tubuh dan mobilitas, tingkat kesadaran, temperatur, tekanan darah, fungsi paru dan skala kesehatan pasien (wellness indicator).
9. Mendisain dokumentasi clinical pathway. Penyusunan dokumentasi clinical pathway perlu memperhatikan format clinical pathway, ukuran kertas, tapi dan perforasi untuk filing. Perlu diperhatikan bahwa penyusunan dokumentasi ini perlu mendapatkan ratifikasi oleh Instalasi Rekam Medik untuk melihat kesesuaian dengan dokumentasi lainnya.
Untuk saat ini, RSUD Prambanan masih dalam tahap perencanaan untuk penetapan clinical pathway dikarenakan oleh beberapa alasan:
1. Usia berdirinya RSUD Prambanan yang baru memasuki tahun ketiga, membutuhkan perubahan sistem yang sudah ada dari awal berdirinya rumah sakit ini dimana sebelumnya belum mempertimbangkan untuk penerapan clinical pathway.
2. Secara sumber daya manusia pengelola manajemen rumah sakit masih tergolong pegawai baru dan belum pernah sebelumnya bekerja di bidang manajemen rumah sakit sehingga masih perlu banyak belajar mengenai aspek-aspek manajerial dari pelayanan kesehatan di rumah sakit yang harus dipelajari untuk direalisasi di RSUD Prambanan.
3. Secara kuantitas sumber daya manusia yang ada dalam pengelolaan manajemen rumah sakit juga masih terbatas sehingga tidak bisa secara optimal merealisasikan sistem-sistem yang seharusnya ada dalam pelayanan kesehatan di RSUD Prambanan.

Referensi :
- http://abuhibbaan.wordpress.com
- http://mutupelayanankesehatan.net

(#2811 views)

  Kirim ke Teman   Cetak halaman ini   Posting komentar  Share on Facebook

Komentar Untuk Berita Ini (0)